Kearifan Timur , memiliki banyak cerita kuno menakjubkan yang kita lupakan begitu saja dizaman ini. Banyak hal yang dapat dipelajari dari cerita-cerita kuno dan kita sesuaikan dengan kehidupan sekarang. Tak ada yang berbeda antara zaman dulu dengan zaman sekarang, hanya bagaimana kita memandang peristiwa yang terjadi dengan bijaksana seperti halnya cerita-cerita kuno yang kita baca dan kita diskusikan tempo hari dalam matakuliah Kaerifan Timur.
Ada cerita- cerita yang membuat saya tertarik dari buku merah “Kearifan Timur dalam Etos Kerja dan Seni Memimpin” , dan mungkin akan membuat saya dan anda , kita dan kalian merenung sejenak , melihat sekilas kebelakang mengenai apa yang terjadi dalam kehidupan kita.
Tertawa adalah cara bijak untuk mengatasi fanatisme, tak perlu disangkal lagi banyak konflik yang terjadi sekarang ini, baik konflik agama, suku , bahkan konflik antara pelajar dengan wartawan. Mencengangkan bukan? Mungkin dari cerita ini kita dapat membuka wawasan kita serta memperbaiki kacamata kita mengenai sebuah masalah. Here we go…
Alkisah ,pada suatu hari datanglah seorang anak kepada Konfusius. Dia adalah anak dari seorang penjahat yang terkenal kejam dan sadis. Anak ini ingin belajar , kemudian Konfusius menerimanya sebagai seorang murid. Namun , murid-muridnya yang lain tidak setuju dengan sang guru. Lalu sang guru menjelaskan alasannya menerima anak itu, “Dia mau belajar”. Hanya karena seseorang ingin belajar, maka orang jahat bisa diubah menjadi baik; salah pengertian bisa dijelaskan; permusuhan bisa didamaikan. Cerita dibawah ini akan membantu kita menafsirkan perkataan diatas.
Syahdan ada seorang dewa yang merasa bingung dan aneh dengan perilaku manusia, mereka sangat fanatik dengan apa yang dianutnya. Mendirikan ormas-ormas , kemudian mulai berkoar-koar dijalanan memamerkan kefanatismeannya kepada umum dan mengajak yang lain untuk bergabung. Dewa itu berpikir dan kemudian memutuskan untuk mencoba membuktikan keadaan umat manusia agar dapat menertawakan dirinya sendiri setelah melihat keanehan itu.
Dewa yang sakti ini menciptakan topi yang sangat besar dan menakjubkan, sebelah kanan berwarna biru dan sebelah kiri berwarna merah. Sang Dewa kemudian memakai topi itu dan turun ke jalan yang penuh dengan manusia. Semua mata tertuju padanya, mata-mata yang menggambarkan ketakjuban. Dengan segala kesaktianya Dewa itu kemudian menghilang ditengah keramaian. Sontak orang-orang terkejut dan berkata “Aku melihat Tuhan! Aku melihat Tuhan!”. Orang yang ada disebelah kanan berkata “betapa menakjubkannya Dia memakai topi berwarna biru!” , kemudian orang yang sebelah kiri membantah, “Tidak! Dia memakai topi warna merah!”. Setelah itu terjadi keributan yang menimbulkan konflik. Mereka mulai membagun benteng-benteng pertahanan dan melakukan serangan.
Kemudian Sang Dewa datang lagi, kini dia berjalan berlawanan arah. Lagi-lagi semua mata tertuju padanya. Sang Dewa pun pergi menghilang seperti kemarin, kemudian orang-orang yang konflik itu berkata satu sama lain, “ternyata kau yang benar Tuhan itu memakai topi merah” , “tidak,ternyata kau yang benar Tuhan itu memakai topi warna biru”.
Semua orang bingung, tidak tahu harus berdamai atau bertengkar. Lalu Dewa itu muncul lagi , berdiri di tengah jalan dan berputar ke kiri lalu ke kanan. Orang-orang melongo dan kemudian tertawa. Ternyata Tuhan itu memakai topi dengan warna sisi yang berlainan.
Hal ini memberikan mereka kesadaran bahwa manusia identik dengan fanatisme,terlalu mengagungkan sesuatu dan menyalahkan pendapat yang berbeda dengan mereka. Pikiran dan hati mereka telah rabun bahkan buta untuk melihat hal-hal lainnya. Tidak bisa berpikir jernih ,seperti kata-kata dibawah ini
“Meski debu emas mahal harganya,Kalau sampai masuk ke mata kita, jalan tol pun akan nampak sempit. Apalagi kalau pikiran kita yang kelilipan.”
Mungkin ceita tentang “ cara unik menangkap moneyt ” juga bisa menggambarkan kefanatismeaan manusia. Di Afrika, monyet ditangkap untuk diekspor dan digunakan dalam uji klinis obat-obatan. Jadi kondisinya harus bagus , menangkapnya pun harus hati-hati tidak boleh ada luka atau cedera. Orang-orang Afrika menangkap monyet dengan cara melubangi batok kelapa, kemudian diisi dengan makanan yang disenangi monyet seperti pisang, kacang dan buah-buahan lainya. Ketika monyet mencium baunya dan mengambil makanan didalam batok kelapa itu , tanganya tidak akan bisa keluar lagi karena ditanganya ada makanan,sehingga mengganjalnya keluar dari dalam batok kelapa itu. Dan dengan mudah para pemburu dapat menangkapnya.
Seperti halnya manusia , jika sudah percaya pada sesuatu yang dianutnya maka sulit untuknya keluar dari hal itu. Tidak bisa lagi berpikir bebas, sedikit saja keluar dari apa yang dianutnya , pasti akan dibilang imannya melemah atau sudah luntur.
Menurut saya ada benang merah yang menghubungkan cerita-cerita diatas dengan Psikologi .Ini merupakan peristiwa yang sering terjadi dimasyarakat. Psikologi dapat membantu manusia keluar dari fanatisme dan berpikir out fo the box. Melihat suatu hal dari berbagai sudut pandang yang berbeda dan menghargai perbedaan pendapat. Mungkin waktu juga bisa merubah sudut pandang seseorang, semakin lama waktu untuk memikirkannya – semakin banyak ilmu yang digali – maka semakin terbuka juga wawasan kita dalam memandang suatu masalah. Seperti apa yang dikatakan Konfusius diawal tadi bahwa dengan belajar dapat mengubah orang jahat menjadi baik; salah pengertian dapat dijelaskan dan permusuhan dapat didamaikan. Psikolog itu bertugas membuat seseorang jadi lebih baik. Mengarahkannya kepada suatu tindakan yang benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar