Senin, 30 September 2013



Analisi Jurnal
 

PENGARUH PROGRAM EMPATI PLUS TERHADAP KEPERCAYAAN INTERPERSONAL PECANDU NARKOBA
Oleh Rina Rahmatika, M.Psi 

      Penelitian ini meneliti pengaruh program empati plus terhadap kepercayaan interpersonal pecandu narkoba dan apakah kepercayaan klien pada konselor akan meningkat seiring dengan pelaksanaan program empati plus dalam proses konseling. Subjek dalam penelitian ini sebanyak enam orang pekerja sosial yang bertugas sebagai konselor TC dari panti rehabilitasi ketergantungan narkoba dan 20 klien yang menjadi responden untuk mengetahui kepercayaan interpersonal klien terhadap konselor. Metode penelitian yang digunakan melalui observasi dengan desain penelitian kuasi eksperimen. Pengukuran dilakukan melalui lembar observasi proses konseling dan pengukuran kepercayaan interpersonal.
             Hubungan yang baik antara konselor dan klien sangat dibutuhkan agar dapat mencapai tujuan konseling, salah satu indikatornya adalah kepercayaan klien kepada konselor. Kurangnya kepercayaan klien terhadap konselor membuat klien sulit untuk membuka dirinya dan juga membiarkan konselor untuk membantunya. Oleh karena itu, agar konselor dapat dipercaya oleh klien, dibutuhkan empati dalam proses konseling tersebut.
          Peneliti menjabarkan dimensi-dimensi kepercayaan interpersonal menurut Kramer & Tyler (1996), menjadi tiga, yaitu kompetensi, kepercayaan, keandalan, dan kepedulian. Sedangkan menurut Willis (2008), sikap empati, hangat, terbuka, memahami, dan memiliki kemampuan tehnik konseling yang baik akan membantu konselor membentuk kepercayaan klien. Semakin orang lain berempati, semakin kita merasa bahwa orang lain menyukai kita dan bisa mempercayai kita, juga sebaliknya.
              Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadinya peningkatan kepercayaan interpersonal klien terhadap konselor TC setelah dilakukan intervensi. Walaupun peningkatan skor dari pre dan post test tidak terlalu tinggi, namun tetap menunjukkan bahwa program empati plus berhasil meningkatkan kepercayaan interpersonal klien terhadap konselornya.

#lanjutan tugas tanggal 24 Sept 2013

Minggu, 29 September 2013

Psikodiagnostik II: Observasi



Analisis Jurnal


Kelas Observasi ga ada henti-hentinya untuk menganalisa jurnal-jurnal yang menggunakan metode pengumpulan data dari observasi. Yuk kita simak ulasan dari jurnal yang sudah dibahas dikelas


KARTU MOTIVASI SEBAGAI  BENTUK DUKUNGAN SOSIAL DALAM PROSES PERAWATAN PADA ANAK KANKER LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT (LLA) YANG DIBERIKAN OLEH ORANGTUA DAN TINJAUAN DARI AGAMA ISLAM

Jurnal ini meneliti tetang keefektifan penggunaan kartu motivasi dari orang tua kepada anaknya yang menderita kanker leukimia limfoblastik akut. Selain ditijau dari sisi psikologis, penelitian ini juga meninjaunya dari agama Islam.
Leukimia adalah salah satu jenis kanker dimana sel-sel yang dalam keadaan normal berkembang menjadi ganas dan dengan segera akan menggantikan sel-sel normal didalam sumsum tulang belakang.
Perlu diketahui bahwa jumlah pasien yang terdiagnosa kanker setiap tahun meningkat mencapai 6,25 juta dan duapertiganya berasal dari negara berkembang seperti Indonesia. Kanker leukimia ini, sekitar 30-40% banyak dijumpai pada anak daripada jenis kanker lainnya. Anak-anak penderita kanker yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit mengalami perubahan fisik, perilaku, dan emosional. Dimana perubahan tersebut dapat berdampak negatif terhadap perkembangan kesehatan fisik dan mental anak. Oleh karen itu, peneliti berharap, penelitiannya melalui kartu motivasi ini dapat memberikan pengetahuan yang baik untuk para orang tua dari anak penderita kanker agar dapat memotivasi anak-anaknya dalam menjalani perawatan.
Dukungan sosial didefinisikan sebagai  informasi dari seseorang kepada orang lain bahwa orang tersebut dicintai dan di perhatikan, di hormati, dan merupakan orangtua, pasangan atau kekasih, anggota keluarga lain, teman, komunitas sosial dan masyarakat (Rietschlin, dalam Taylor 2006). Kartu motivasi yang diberikan yaitu berupa kartu yang berisikan gambar, kata-kata atau kalimat motivasi kepada penerimanya.
Responden dalam penelitian ini sebanyak lima orang dengan metode pengumpulan data melalui observasi dan wawancara mendalam. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa kartu motivasi menjadi salah satu alat komunikasi bagi orang tua kepada anak. Anak-anak yang menerima kartu tersebut merasa senang bahkan satu diantaranya membuat kartu motivasi untuk dirinya sendiri. Komunikasi antara orang tua dan subjek bersifat lebih intensif, bentuk komunikasi seperti ini dinyatakan sebagai bentuk komunikasi terapeutik yag bersifat menyembuhkan.
Dalam tinjauan Islam, dukungan emosional mencakup empati, kasih sayang, dan perhatian terhadap individu selain itu pemberian kartu motivasi hukumnya adalah mubah atau diperbolehkan.



PELATIHAN REGULASI EMOSI UNTUK MENURUNKAN PERILAKU AGRESIF PADA ANAK

            Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah pelatihan regulasi emosi dapat menurunkan perilaku agresif pada anak usia sekolah kelas lima SD yang berusia 10th. Fenomena dari anak-anak yang semakin melakukan tindakan agresif seperti menghina, melempar barang, mencubit, menendang, mendorong untuk mendapatkan keinginan, mengganggu teman, dan lain-lain, mendorong peneliti untuk melakukan penelitian ini.
            Perlu diketui bahwa regulasi emosi adalah pemikiran atau peringatan yang dipengaruhi oleh perasaan individu, bagaimana individu mengalami dan mengungkapkan perasaannya (Gross & John, 2003). Sedangkan perilaku agresif adalah segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti atau melukai makhluk hidup lain yang tidak menginginkan datangnya perilaku tersebut (Krahe, 2005).
              Subjek penelitian sebanyak dua orang. Perilaku agresif diamati melalui perilaku agresif fisik dan verbal yang bersifat terbuka atau tampak. Hasilnya menunjukkan bahwa pelatihan regulasi emosi dapat menurunkan perilaku agresif pada subjek penelitian. Kemampuan anak untuk melakukan regulasi emosi, yaitu menilai, mengatur, dan mengungkapkan emosinya secara tepat.  



HUBUNGAN SEKSUAL LANSIA PRIA YANG TELAH KEHILANGAN PASANGANNYA
                                                              Oleh Yumiko Nakahara
 
         Penelitian ini berasal dari Jepang, dimana terdapat nilai bahwa pria lansia yang sudah kehilangan pasangannya (istri) akibat meninggal akan mendapat pandangan yang negatif jika ia mencari pasangan pengganti. Lansia juga dianggap tidak kompeten dan berada ditigkat terendah dalam tangga sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencermati perilaku seksual dan pandangan mereka tentang perilaku seksual tersebut.
                Subjek penelitian sebanyak tiga orang duda, berusia diatas 60th yang tetap menduda tetapi memiliki hubungan seksual saat penelitian berlangsung. Penelitian lain menyebutkan bahwa kesehatan seksual merupakan komponen penting untuk meningkatkan kualitas hidup dan itu terkait dengan fungsi dan hasrat (Montreal Deklarasi, 2005). Hubungan seksual juga mempengaruhi tingkat kepuasan hidup (dunia kongres sexology, 2005), serta pentingnya merestrukturisasi hubungan manusia untuk pria setelah kehilangan pasangan mereka (Akazawa & Mizukami, 2008).
                Dari hasil observasi dan wawancara, dapat dikatakan bahwa subjek berusaha melawan pandangan negatif pada dirinya dan pasangannya. Subjek berusaha untuk menunjukkan perannya baik sebagai laki-laki, ayah, dan juga sebagai seorang kekasih. Dalam hal menjalin hubungan seksual, mereka mulai mencari pasangan melalui kenalan atau bertemu saat acara tertentu. Hubungan mereka berkembang untuk sesuatu yang menyenangkan, bukan untuk reproduksi. Keberadaan pendamping wanita dapat meningkatkan self-esteem pada pria. Subjek juga lebih memperhatikan pasangan barunya karena tidak mau mengulangi kesalahan saat bersama almarhum istrinya dulu. Subjek juga tidak akan pernah melupakan kenangan dirinya bersama istri, dan begitupun dengan pasangan barunya, mereka saling berbagi. Subjek juga terus memberikan dukungan kepada anak-anaknya terutama yang belum menikah. Mereka yakin bahwa tidak ada yang berubah pada diri mereka secara mental, tetapi mereka tidak menyangkal bahwa secara fisik terjadi kemunduran.
  


MENGURANGI KECEMASAN KONSELI MENGIKUTI UJIAN NASIONAL MELALUI KONSELING KELOMPOK DENGAN STRATEGI RELAKSASI
         
       Penelitian ini bertujuan untuk membantu konseli mengatasi masalah kecemasan menghadapi ujian, juga untuk meningkatkan aktivitas konseli dalam layanan konseling kelompok. Peneliti berharap dengan relaksasi dapat megurangi kecemasan konseli saat ujian nasional.
         Relaksasi merupakan suatu tehnik dalam terapi perilaku.  Secara ilmiah, relaksasi merupakan perpanjangan serabut otot skeletal, sedangkan ketegangan merupakan kontraksi terhadap perpindahan serabut otot (Beech, 1982). Relaksasi membuat individu lebih mampu menghindari reaksi yang berlebihan karena stres, dapat mengurangi tingkat kecemasan, serta meningkatkan hubungan interpersonal. Orang yang rileks dalam situasi interpersonal akan berpikir rasional.
                Subjek dari penelitian ini adalah 12 orang siswa (4 orang laki-laki & 8 oang perempuan), yang duduk di kelas IX SMP Negeri 1 Jatiroto. Metode pengumpulan data melalui observasi dan angket yang dianalisa secara kualitatif berdasarkan hasil refleksi jawaban positif dari konseli yang mengalami kecemasan. Hasilnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa konseling kelompok dengan strategi relaksasi dapat membantu konseli mengatasi masalah kecemasan.

Sabtu, 21 September 2013

Psikodiagnostik II: Observasi


Halo teman-teman, Review kali ini masih mengenai beberapa jurnal yang dibahasa saat kelas psikodiagnostik II: Observasi yaahhh… tapi kita mulai dengan etikaa penelitian terlebih dahulu

Etika Penelitian :
  1. Menghindari perasaan tidak nyaman/ menyakiti pada subjek secara fisik dan psikologis
  2. Jika terdapat ketidaknyamanan dari subjek tentang penelitian yang berlangsung, peneliti bisa menjelaskan maksud dari penelitian tersebut
  3. Meminta izin untuk merekam suara, gambar, atau dalam bentuk tulisan, biasanya saat wawancara
  4. Tidak boleh mengungkapkan identitas subjek, kecuali dengan izin subjek. Walaupun dalam konteks pembelajaran, nama subjek harus tetap disamarkan atau hanya memakai inisial

(Wordman. 1999. 5th edition. Psychology)

Jurnal selanjutnya yang akan kita bahas adalah sebagai berikut:

 “Subjective Well-Being Anak dari Orang Tua Yang Bercerai”
                Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat dinamika perubahan well-being (kesejahteraan) anak dengan orang tua yang bercerai. Subjek penelitian sebanyak dua orang yang berusia diantara 18-21th. Kenapa peneliti memilih criteria subjek seperti itu? Tidak lain karena pada usia tersebut, seseorang sedang dalam tahap operasional formal dimana dia bisa mengorganisasikan ingatannya dengan baik. Teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Subjek diwawancara mengenai keadaan keluarganya, sebelum dan sesudah perceraian orang tua. Kemudian hasil tersebut diobservasi oleh peneliti melalui beberapa teknik analisis data.
                Hasilnya menunjukkan bahwa hasil pengamatan sebelum terjadinya perceraian tingkat subjective well-being subjek cenderung rendah. Kemudian, setelah terjadinya perceraian orang tua, terdapat dua hasil. Pertama, menggambarkan subjective well-being yang cenderung rendah dan yang kedua, menggambarkan subjective well-being yang cenderung meningkat.

#Jurnal Psikologi Volume 35, No. 2, Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada


“Analisis Gender pada Iklan Televisi dengan Metode Semiotika”
                Masalah dari penelitian ini adalah apakah iklan berimplikasi pada pengukuhan kembali nilai gender stereotype bila iklan yang bersangkutan memuat ideology gender yang seksis? Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua iklan, yaitu iklan Ponds White Beauty dan iklan Rinso sebagai objeknya. Kemudian peneliti melakukan observasi terhadap iklan-iklan yang ditayangkan untuk mendapatkan gambaran tentang iklan itu sendiri. Jadi, disini peneliti ingin melihat apakah iklan ini menimbulkan pemikiran yang mengandung unsur stereotip gender pada penontonnya atau tidak. selain itu peneliti juga menggunakan metode semiotika, yaitu studi tentang tanda. Metode ini digunakan untuk mencari makna ideologi dari suatu teks.
                Hasilnya, iklan Ponds White Beauty mempresentasikan ideology gender yang seksis (mengandung stereotip gender), dimana perempuan diletakkan pada posisi subordinat yang harus memenuhi keinginan laki-laki agar bisa menarik perhatian. Produsen sengaja menciptakan image kecantikan ideal tersebut agar dipakai oleh calon konsumennya sebagai standar kecantikan pribadi konsumennya. Sedangkan iklan Rinso mempresentasikan bahwa kebahagiaan akan diperoleh oleh pasangan yang mau berbagi tugas rumah tangga kemudian diasosiasikan dengan kualitas produknya. Jadi iklan Rinso ini mengandung isu kesetaraan gender untuk menonjolkan kualitas produknya.

#sumber: -

“Studi Kasus: Dampak Psikososial Enuresis Pada Remaja Putri”
                Apa itu enuresis? Jadi ternyata enuresis itu adalah kebiasaan mengompol. Ngompol biasanya terjadi pada anak-anak, bagaimana jika ini masih terjadi pada seorang remaja putri? Nah, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak psikososial enuresis pada remaja putri, apakah ada faktor yang mempengaruhi keseharian dalam kualitas hubungan subjek dengan orang tua, saudara dan teman sekolah.
                Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif serta teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan terhadap orang tua, saudara, teman, guru kelas, dan guru BK. Observasi dengan cara anecdotal record, agar peneliti dapat mengetahui aktifitas dan interaksi subjek di rumah, kelas, dan juga luar kelas.
                Hasil menunjukkan bahwa terdapat dampak psikososial yang dialami oleh remaja putrid tersebut, antara lain rasa malu dan merasa bersalah akibat kondisinya, hubungan dengan keluarga menjadi kurang dekat, mendapat labeling yang kurang menyenangkan dirumah, ekspresi komunikasi verbal yang cenderung kasar, sulit diatur, tidak memiliki teman sebaya dan sering mendapat ejekan. Di lingkungan sekolahpun dia kurang diterima oleh teman-temannya.




Eitssss belum selesai…. kita masih akan membahas tentang Membuat Penelitian. Bagi temen-temen yang sebentar lagi mau SKRIPSI (!!!) atau mau bikin karya ilmiah lain, ini bisa dijadikan sebagai tips & trik. Saran ini dari dosenku yang paling kece lhooo, Mas Seta Wicaksana (tapi agak sedikit dikacaukan oleh pendapat saya, hihi). Check it out!!

1. Fenomena!!!
                Lihat kejadian-kejadian disekitas kamu, coba analisis singkat berhubungan dengan aspek-aspek yang kamu pelajari atau tidak. biasnaya akan lebih mudah jika kita mencari judul skripsi atau karya ilmiah dari fenomena yang terjadi, apalagi yang sedang booming.

2. Buat Masalah Penelitian
                Look around and think!! Setelah lihat permasalah yang ada disekitar, coba kamu buat rumusan masalahnya agar penelitian kamu punya manfaat yang jelas. Kalau memang belum ketemu bahasa ilmiahnya bisa pakai bahasa populernya dulu. Jangan biarkan kendala bahasa dan istilah menggalaukan kamu! Minta bantuan dari teman atau dosen pembimbing juga boleh. Oia, hati-hati, terkadang kita salah atau kurang tepat dalam menentukan masalah.

3. Bedah dengan teori
                Nah, di tahap ini kamu harus mencari teori-teori yang sesuai dengan masalah penelitian. Mencari hubungan dari beberapa aspek variabel adalah salah satu kesulitan dalam tahap ini. jangan lupa untuk menentukan metode penelitian, metode pengumpulan data, penentuan subjek dan lain sebagainya yang juga penting dalam penelitian.

4. Hasil-Kesimpulan
                Selamat! Selamat! Anda sudah mencapai tahap ini (haha). Perlu diperhatikan bahwa dalam hal ini, hasil yang kita tulis harus menjawab masalah penelitian. Jangan sampai saking asyiknya kita nulis, jawaban dari masalah penelitian malah ngelantur. So, tetap cermati apa yang kamu tulis yah…

5. Diskusi
                Biasanya hal-hal yang muncul dalam penelitian dan tidak termasuk dalam unsur untuk menjawab masalah penelitian, akan dibahas melalui bagian diskusi ini. Jadi, apapun itu jangan dibuang begitu saja, masih ada manfaatnya, kok, untuk dishare.

Semoga tips singkat ini bisa membantu kita dalam menghadapi tugas-tugas penelitian dan skripsi yahhhh… Amin :D
  

Rabu, 18 September 2013

Psikologi dalam Manajemen Sumber Daya Manusia


HR Professional dari Perspektif CEO

          Hal penting! Udah tau HR Professional dan CEO belum??? HR itu singkatan dari Human Resources, sedangkan CEO adalah Chief Executive Officer. Dalam sebuah organisasi atau perusahaan, pasti terdapat suatu struktur dimana bentuknya semakin mengerucut ke atas.

         Dimulai dari tingkat yang paling bawah yaitu staff, kemudian naik ke tingkat selanjutnya yaitu manager atau supervisor dan di tingkat teratas yaitu top management. Setiap orang pasti ingin terus berkembang hingga nantinya bisa bergabung sebagai anggota dari top management. Mengawali karir sebagai human resources, kita dituntut untuk menguasi semua prinsip ilmu yang berkaitan dengan proses personnel palnning, recruitmen, penggajian, training & counseling. Itu semua harus bisa dilakukan HR karena dianggap sebagai orang yang ahli dalam bidang tersebut (spesialis).  CEO atau direksi suatu perusahaan mempercayakan seluruh sumber daya manusianya kepada HR professional.
       
          Ada beberapa peran Human Resources yang diharapkan CEO (Top Management):

1. Sebagai Strategic partner  à HR dapat memahami permasalahan-permasalahan dari berbagai  
    perspektif, misalnya dari perspektif manajemen, bisnis, keuangan/financial dan lain sebagainya. HR tidak  
    boleh datang pada CEO dengan membawa masalah karena HR-lah yang harusnya menyelesaikan masalah  
    tersebut.

2. Advokasi à HR berperan sebagai konselor, sebagai pembimbing dan pelatih (as a coach) bukan hanya  
    kepada CEO tetapi juga terhadap karyawan lainnya. Sebagai HR kita juga harus menunjukkan kesiapan 
    menghadapi masalah.

3. Administratif à HR memahami tentang administrative (Personnel Management), dimana kita harus 
    mengetahui identitas atau data karyawan.

4. Change Agent à HR diharapkan dapat mengusulkan perbaikan atau perubahan. Mengkomunikasikan 
    informasi-informasi  baik dari atasan ke bawahan maupun sebaliknya.

                Human Resources sebenarnya menangani sekitar 50% dari masalah yang ada diperusahaan, terutama masalah sumber daya manusia. Namun, jika posisinya sebagai HR/GA maka ada sekitar 10-25% tambahan masalah yang harus ditangani berkaitan dengan pembantu umum, seperti masalah gedung, keluhan fasilitas yang tidak beres, pengadaan alat bantu, inventaris, serta yang berhubungan dengan masalah savety.
                Nah, seorang HR professional yang berada ditingkat manapun, jika dia menguasai masalah-masalah lain diperusahaan maka dia akan mudah menarik perhatian atasannya. Jangan salah, semakin kita berada dipuncak, maka semakin banyak pula pengetahuan yang harus  kita miliki. Jadi, jangan bosan-bosan untuk belajar hal-hal baru. Orang-orang yang dibutuhkan perusahaan adalah dia yang mau belajar :D 



#T_3

Senin, 16 September 2013

Psikodiagnostik II: Observasi

Penerapan Terapi Realitas untuk Membantu Coping-Stress pada Wanita Pekerja Seksual dengan HIV Positif
 (Ulasan Jurnal)


                Sudah jatuh tertimpa tangga pula! Mungkin itu pepatah yang tepat untuk ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Siapa sih manusia didunia ini yang mau sakit? Apalagi terinfeksi HIV/AIDS (Human Indeficiency Virus/ Acquired Immuno Deficiency Syndrome), sudah jelas tidak ada yang mau! Cemoohan dan diskriminasi sosial pasti menjadi masalah pertama yang harus dihadapi mereka. Menerima kenyataan bahwa mereka terinfeksi HIV saja sudah berat, ditambah lagi dengan masalah sosial yang langsung menyerang. Bersyukurlah mereka yang sudah melewati tahap awal ini dan mampu memperjuangkan hidup.

                Di Indonesia, penyakit HIV/AIDS mempunyai stigma negatif dalam masyarakat, secara agamis mereka menganggap bahwa orang yang terinfeksi virus ini adalah orang yang tidak taat agama[1]. Kenapa? Karena penyakit ini terutama disebarkan melalui hubungan seksual pada anal, vaginal dan oral dengan tingkat resiko penderita tertinggi adalah pekerja seksual yang berganti-ganti pasangan serta penggunaan narkoba jarum suntik. Padahal tidak semua penderita adalah pekerja seksual atau pengguna narkoba jarum suntik, bisa saja mereka menderita karena terpapar oleh orang tua atau permpuan yang tertular suami.

                Pada tahun 2013 ini, banyak sekali kasus diskriminasi terhadap ODHA, termasuk anak-anak yang tertular HIV sejak dalam kandungan. Salah satunya Mirza (bukan nama asli), dia ditolak meneruskan pendidikan di sebuah Taman Kanak-kanak (TK) karena diketahui mengidap HIV/AIDS. Sebelumnya, Mirza pernah mengecap pendidikan di Paud, namun ketika ingin melanjutkan ke TK, dia ditolak oleh pihak sekolah. Berbagai pihak sangat menyayangkan hal ini karena akhirnya Mirza tidak dapat melanjutkan pendidikan[2]. Kasus diatas merupakan diskriminasi dari lingkungan sosial, bagaimana dengan lingkungan terdekat yaitu keluarga? Di India, ada seorang ibu yang tega membunuh anaknya yang terinfeksi HIV/AIDS[3]. Sungguh kejam bukan?

                Kasus-kasus yang telah terjadi, membuat sebagian orang tersadar bahwa para penderita HIV ini harus dibantu baik secara medis maupun psikologis. Medis bisa berupa pengobatan, pelayanan yang ramah dan kemudahan dalam mendapatkan pengobatan, sedangkan psikologis dapat berupa pendampingan serta konseling agar bisa menghadapi realita kehidupan yang dihadapinya. Salah satu konseling yang menjadi bahan penelitian terkait efektifitas dalam mengatasi stress pada penderita HIV positif adalah terapi realitas.  Seperti judul yang tertera diatas, Tatik Imadatus Sa’adati melakukan penelitian kepada Wanita Pekerja Seksual (WPS) yang terinfeksi HIV di daerah Surabaya, Jawa Timur. Ia meneliti dua WPS yang telah bekerja kurang lebih selama 2 tahun. Perubahan status kesehatan pada subjek menimbulkan kondisi psikologis yang tidak stabil, hal ini akan mempengaruhi bagaimana subjek beradaptasi dengan penyebab stress yang akan muncul kemudian. Salah satu sumber stress yang dihadapi subjek adalah rencana pernikahan. Berbagai macam bentuk respon timbul saat mereka mengetahui status kesehatannya, seperti depresi, gangguan mood, marah, berpikiran untuk bunuh diri dan lain sebagainya. Pemberian konseling diharapkan dapat membantu menenangkan kondisi psikologis ODHA. 

                Terapi realitas yang digunakan dalam penelitian tersebut memiliki tujuan agar subjek  dapat menerima keadaannya dan tidak melakukan hal-hal yang dapat membahayakan diri serta dapat beradaptasi dengan kondisi kesehatnnya yang baru. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai upaya coping-stress pada WPS dengan HIV Positif. Dalam pelaksanaannya, terapi menggunakan pendekatan konseling dan fokus pada penyelesaian masalah pada saat ini, dan bagaimana membuat masa depan lebih baik daripada berkonsentrasi pada masa lalu. Mengajari untuk menetapkan keputusan, membuat aksi, dan kontrol dalam hidupnya. Mengarahkan WPS untuk dapat mengambil keputusan yang tepat atas rencana masa depan hidupnya dalam bentuk perilaku yang lebih bertanggung jawab.

                Sesuai dengan definisi dari korelasi stress dengan perilaku pada DSM IV-TR American Psychiatric Association (APA), Berger (2008) memberikan kategori stress, yaitu stres akut, stres akut episodik, stres kronik, dan stres traumatik. Kedua subjek tersebut terdeteksi mengalami stres koronik, dimana stres tersebut dapat menekan daya tahan tubuh.

                Definisi coping-stress menurut Sarafino (dalam Maifrisco, 2008) adalah proses dimana individu melakukan usaha untuk mengatur situasi yang dipersepsikan adanya kesenjangan usaha dan kemampuan yang dinilai sebagai penyebab munculnya situasi stres. Prestonje (1992: 170) membagi coping-stress menjadi dua bentuk, yaitu active approach, yaitu menghadapi realita stress yang dialami dan mengklarifikasi masalah melalui upaya konstruktif terkait dengan pihak lain; dan yang kedua adalah passive approach, dimana individu memutuskan, menurunkan atau menolak stress/tekanan yang dialami dengan menghindari masalah. 
                Terapi realitas yang aktif secara verbal ini, menurut penelitian tersebut membawa hasil positif bagi para subjek. Mereka kini memiliki pemahaman yang benar tentang infeksi HIV yang ada padanya, sehingga kekhawatiran dan ketakutan yang semula dirasakan sangat mengganggu kini menjadi berkurang meskipun belum hilang sama sekali.  Hasil lain yang tampak adalah kemampuan subjek untuk belajar mengambil keputusan berkaitan dengan hubungan interpersonal yang dijalaninya. Subjek juga memiliki niat untuk keluar dari pekerjaannya saat ini dan belajar menjalani hidup yang lebih baik. Beberapa perilaku yang diharapkan juga terpenuhi, seperti penggunaan kondom yang lebih diperketat, kesadaran subjek untuk memeriksakan kesehatannya secara rutin, pola makan dan istirahat yang lebih baik. Selain itu, subjek juga mampu melaksanakan usaha coping-stress dengan metode active approach, yaitu adanya keinginan bagi subjek untuk memutuskan menghadapi realita yang dialaminya dengan melakukan konsultasi dengan terapis tentang kondisi tubuhnya yang mudah lemah dan sakit, serta kemampuan subjek memberikan semangat pada dirinya sendiri untuk dapat berusaha bertahan dengan kondisi status kesehatannya saat ini.

                Jadi dengan kondisi psikologis yang stabil diharapkan daya tahan tubuh penderita lebih kuat, karena menurut Cohen dan Herbert (dalam Durrand & Barlow, 2006: 347) terdapat pengaruh langsung antara kondisi psikologis dengan kerentanan tubuh. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk bisa menerima keberadaan ODHA karena mereka memerlukan dukungan yang kuat. Hal penting lainnya yang perlu kita ketahui adalah HIV/AIDS tidak bisa tertular dengan berada ditempat yang sama, minum dengan gelas yang sama, ataupun dengan bersalaman, jadi kita tidak perlu mengucilkan mereka. Ingat, mereka juga saudara kita, saudara sebangsa dan setanah air…. 



[1] http://health.kompas.com/read/2013/07/22/0720069/Penanganan.HIV/AIDS.Terhambat.Stigma
[2] http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news_kedu/2013/07/03/163182/Idap-HIVAIDS-Mirza-Tak-Diterima-Daftar-Sekolah
[3] http://news.detik.com/read/2013/08/14/143947/2329601/1148/sadis-ibu-di-india-cekik-mati-putranya-penderita-hiv-aids

Pembahasan Jurnal Penelitian Psikologi 2011, Vol. 02, No. 02, 229-245
Penulis Tatik Imadatus Sa’adati
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kediri

ditulis dalam bentuk artikel oleh Nadia Chairunnisa
#Pertemuan ke-2 Psikodiagnostik II: Observasi
#T2_1