Pertama kali
meletakkan jari diatas laptopku dan mulai mengetikkan kata-kata, rasanya hati
ini perih, seperti tergores. Entah kapan persahabatan ini berubah menjadi
cinta, tapi yang jelas aku sangat kecewa. Kecewa karna harus menyakiti
sahabatku sendiri. Aku akan lebih mengecewakannya jika aku berbohong…
Jujur, walaupun
agak menyakitkan tapi setidaknya tidak
perlu ada yang ditutup-tutupi. Mengetahui rasa yang sebenarnya ada padanya
membuatku kacau, tidak tahu harus berbuat apa. Aku memutuskan untuk jujur,
bahwa aku hanya menyayanginya tidak lebih. Aku tidak mau menjauh darinya,
walaupun dikebanyakan novel yang ku baca, sahabat itu akan menjauh, merasa
canggung, dan akhirnya merasa kehilangan. Tidak bisa kembali ke masa-masa
dimana mereka bisa bercanda bersama. Dan aku tidak mau kehilangan lagi.
Aku dan dia
sepakat untuk tetap seperti ini, seperti layaknya sahabat yang tidak akan
berubah. Egois mungkin, ketika aku tetap membutuhkannya, tetapi dia
mengharapkan sesuatu yang lebih dariku. Ketika aku bercerita tentang orang yang
kusukai, dan dia berusaha menjadi pendengar yang baik. Ketika aku membutuhkan
bantuan, dan dia dengan senang hati membantuku. Ketika dia tetap menemaniku
saat aku merasa sepi, bahkan hampa. Entah mengapa dada ini semakin sesak, hati
ini seperti dicabik-cabik, dan akhirnya menghasilkan luapan air mata yang
menurutku tak berguna. Aku memebenci diriku karena telah melukai sahabatku
sendiri.
Harus bagaimana
lagi? Haruskah aku menjauh darinya? Berhenti untuk berchating ria atau sekedar
untuk bertegur sapa? Childish! Berkali-kali
pertanyaan itu terbersit dan berkali-kali pula aku menyangkalnya. Marah, geram,
sedih, kecewa, menangis. Kenapa jantung ini tidak bisa berdebar saat bersamanya?
Kenapa cinta bukan jatuh pada orang yang… tepat? Kenapa?
“……………………………………………………………………………………”
tak ada jawaban, hatiku tak menjawabnya. Tawa ini hanya pertanda bahwa aku
seorang pengumpat yang baik!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar