Analisis Jurnal Observasi
Efektivitas Metode Bermain Peran (Role Play) Untuk meningkatkan
Keterampilan Komunikasi Pada Anak
(journal.uad.ac.id/index.php/EMPATHY/article/download/1555/893)
Dalam jurnal ini, peneliti
tertarik untuk mengetahui cara komunikasi anak-anak. Peneliti menggunakan
metode bermain peran sebagai intervensi untuk melihat pengaruhnya terhadap
keterampilan komunikasi anak. Peneliti ingin melihat perbedaan keterampilan
komunikasi pada anak yang diberikan perlakuan metode berain peran (role play)
dengan anak yang tidak diberikan perlakuan metode bermain peran.
Keterampilan komunikasi yang
diperhatikan dalam penelitian ini ada tiga (Santrock, 2007), yaitu keterampilan
bicara, endengar, dan berkomunikasi secara non-verbal. Sebelum menentukan
subjek, peneliti melakukan tes awal untuk melihat anak-anak yang memiliki
keterampilan komunikasi dibawah rata-rata. Setelah tes tersebut jumlah subjek
penelitian sebanyak 15 siswa siswi kelas B di PAUD IT Durratul Islam, Ngablak,
Magelang.
Pengumpulan data dalam penelitian
ini menggunakan observasi dengan metode Child
Behavior Checklist (CBCL). Kemudian untuk melihat apakah metode bermain
role play efektif dalam meningkatkan kemampuan komunikasi pada anak, dilakukan
posttest setelah eksperimen selesai.
Hasil penelitian menunjukkan adanya
perbedaan peningkatan yang signifikan pada keterampilan komunikasi antara
kelompok siswa yang diberikan metode bermain role play dan kelompok yang tidak diberi metode tersebut. Jadi,
metode bermain peran efektif untuk meningkatkan keterampilan komunikasi pada
anak.
Memperkecil Frekuensi Membolos Melalui Koneling Pribadi Diri
Tujuan penelitian ini adalah
ingin mengetahui apakah efektifitas konseling pribadi dapat memperkecil
frekuensi membolos konseli pada semester ganjil tahun 2009/2010 di SMA Islam
Lumajang. Sampel dalam penelitian ini sebanyak lima orang, dimana masing-masing
konseli memiliki frekuensi membolos 14, 14, 15, 10, dan 18 kali.
Subjek
diteliti melalui konseling dan pengumpulan data dalam penelitian ini
menggunakan teknik observasi dan wawancara. Hasilnya, faktor yang menyebabka
subjek membolos adalah kesamaan kesenangan dengan konseli yang sering membolos,
faktor keluarga, akibat pergaulan, belum ada stabilitas tanggung jawab terhadap
peran diri sebagai pelajar, kurang mendapatkan perhatian guru saat kegiatan pembelajaran,
serta kurang mendapatkan perhatian dari keluarga. Jadi, konseling pribadi dapat
memperkecil frekuensi membolos pada semester 1 tahun pelajaran 2009/2010 di SMA
Islam Lumajang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar