Minggu, 29 September 2013

Psikodiagnostik II: Observasi



Analisis Jurnal


Kelas Observasi ga ada henti-hentinya untuk menganalisa jurnal-jurnal yang menggunakan metode pengumpulan data dari observasi. Yuk kita simak ulasan dari jurnal yang sudah dibahas dikelas


KARTU MOTIVASI SEBAGAI  BENTUK DUKUNGAN SOSIAL DALAM PROSES PERAWATAN PADA ANAK KANKER LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT (LLA) YANG DIBERIKAN OLEH ORANGTUA DAN TINJAUAN DARI AGAMA ISLAM

Jurnal ini meneliti tetang keefektifan penggunaan kartu motivasi dari orang tua kepada anaknya yang menderita kanker leukimia limfoblastik akut. Selain ditijau dari sisi psikologis, penelitian ini juga meninjaunya dari agama Islam.
Leukimia adalah salah satu jenis kanker dimana sel-sel yang dalam keadaan normal berkembang menjadi ganas dan dengan segera akan menggantikan sel-sel normal didalam sumsum tulang belakang.
Perlu diketahui bahwa jumlah pasien yang terdiagnosa kanker setiap tahun meningkat mencapai 6,25 juta dan duapertiganya berasal dari negara berkembang seperti Indonesia. Kanker leukimia ini, sekitar 30-40% banyak dijumpai pada anak daripada jenis kanker lainnya. Anak-anak penderita kanker yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit mengalami perubahan fisik, perilaku, dan emosional. Dimana perubahan tersebut dapat berdampak negatif terhadap perkembangan kesehatan fisik dan mental anak. Oleh karen itu, peneliti berharap, penelitiannya melalui kartu motivasi ini dapat memberikan pengetahuan yang baik untuk para orang tua dari anak penderita kanker agar dapat memotivasi anak-anaknya dalam menjalani perawatan.
Dukungan sosial didefinisikan sebagai  informasi dari seseorang kepada orang lain bahwa orang tersebut dicintai dan di perhatikan, di hormati, dan merupakan orangtua, pasangan atau kekasih, anggota keluarga lain, teman, komunitas sosial dan masyarakat (Rietschlin, dalam Taylor 2006). Kartu motivasi yang diberikan yaitu berupa kartu yang berisikan gambar, kata-kata atau kalimat motivasi kepada penerimanya.
Responden dalam penelitian ini sebanyak lima orang dengan metode pengumpulan data melalui observasi dan wawancara mendalam. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa kartu motivasi menjadi salah satu alat komunikasi bagi orang tua kepada anak. Anak-anak yang menerima kartu tersebut merasa senang bahkan satu diantaranya membuat kartu motivasi untuk dirinya sendiri. Komunikasi antara orang tua dan subjek bersifat lebih intensif, bentuk komunikasi seperti ini dinyatakan sebagai bentuk komunikasi terapeutik yag bersifat menyembuhkan.
Dalam tinjauan Islam, dukungan emosional mencakup empati, kasih sayang, dan perhatian terhadap individu selain itu pemberian kartu motivasi hukumnya adalah mubah atau diperbolehkan.



PELATIHAN REGULASI EMOSI UNTUK MENURUNKAN PERILAKU AGRESIF PADA ANAK

            Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah pelatihan regulasi emosi dapat menurunkan perilaku agresif pada anak usia sekolah kelas lima SD yang berusia 10th. Fenomena dari anak-anak yang semakin melakukan tindakan agresif seperti menghina, melempar barang, mencubit, menendang, mendorong untuk mendapatkan keinginan, mengganggu teman, dan lain-lain, mendorong peneliti untuk melakukan penelitian ini.
            Perlu diketui bahwa regulasi emosi adalah pemikiran atau peringatan yang dipengaruhi oleh perasaan individu, bagaimana individu mengalami dan mengungkapkan perasaannya (Gross & John, 2003). Sedangkan perilaku agresif adalah segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti atau melukai makhluk hidup lain yang tidak menginginkan datangnya perilaku tersebut (Krahe, 2005).
              Subjek penelitian sebanyak dua orang. Perilaku agresif diamati melalui perilaku agresif fisik dan verbal yang bersifat terbuka atau tampak. Hasilnya menunjukkan bahwa pelatihan regulasi emosi dapat menurunkan perilaku agresif pada subjek penelitian. Kemampuan anak untuk melakukan regulasi emosi, yaitu menilai, mengatur, dan mengungkapkan emosinya secara tepat.  



HUBUNGAN SEKSUAL LANSIA PRIA YANG TELAH KEHILANGAN PASANGANNYA
                                                              Oleh Yumiko Nakahara
 
         Penelitian ini berasal dari Jepang, dimana terdapat nilai bahwa pria lansia yang sudah kehilangan pasangannya (istri) akibat meninggal akan mendapat pandangan yang negatif jika ia mencari pasangan pengganti. Lansia juga dianggap tidak kompeten dan berada ditigkat terendah dalam tangga sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencermati perilaku seksual dan pandangan mereka tentang perilaku seksual tersebut.
                Subjek penelitian sebanyak tiga orang duda, berusia diatas 60th yang tetap menduda tetapi memiliki hubungan seksual saat penelitian berlangsung. Penelitian lain menyebutkan bahwa kesehatan seksual merupakan komponen penting untuk meningkatkan kualitas hidup dan itu terkait dengan fungsi dan hasrat (Montreal Deklarasi, 2005). Hubungan seksual juga mempengaruhi tingkat kepuasan hidup (dunia kongres sexology, 2005), serta pentingnya merestrukturisasi hubungan manusia untuk pria setelah kehilangan pasangan mereka (Akazawa & Mizukami, 2008).
                Dari hasil observasi dan wawancara, dapat dikatakan bahwa subjek berusaha melawan pandangan negatif pada dirinya dan pasangannya. Subjek berusaha untuk menunjukkan perannya baik sebagai laki-laki, ayah, dan juga sebagai seorang kekasih. Dalam hal menjalin hubungan seksual, mereka mulai mencari pasangan melalui kenalan atau bertemu saat acara tertentu. Hubungan mereka berkembang untuk sesuatu yang menyenangkan, bukan untuk reproduksi. Keberadaan pendamping wanita dapat meningkatkan self-esteem pada pria. Subjek juga lebih memperhatikan pasangan barunya karena tidak mau mengulangi kesalahan saat bersama almarhum istrinya dulu. Subjek juga tidak akan pernah melupakan kenangan dirinya bersama istri, dan begitupun dengan pasangan barunya, mereka saling berbagi. Subjek juga terus memberikan dukungan kepada anak-anaknya terutama yang belum menikah. Mereka yakin bahwa tidak ada yang berubah pada diri mereka secara mental, tetapi mereka tidak menyangkal bahwa secara fisik terjadi kemunduran.
  


MENGURANGI KECEMASAN KONSELI MENGIKUTI UJIAN NASIONAL MELALUI KONSELING KELOMPOK DENGAN STRATEGI RELAKSASI
         
       Penelitian ini bertujuan untuk membantu konseli mengatasi masalah kecemasan menghadapi ujian, juga untuk meningkatkan aktivitas konseli dalam layanan konseling kelompok. Peneliti berharap dengan relaksasi dapat megurangi kecemasan konseli saat ujian nasional.
         Relaksasi merupakan suatu tehnik dalam terapi perilaku.  Secara ilmiah, relaksasi merupakan perpanjangan serabut otot skeletal, sedangkan ketegangan merupakan kontraksi terhadap perpindahan serabut otot (Beech, 1982). Relaksasi membuat individu lebih mampu menghindari reaksi yang berlebihan karena stres, dapat mengurangi tingkat kecemasan, serta meningkatkan hubungan interpersonal. Orang yang rileks dalam situasi interpersonal akan berpikir rasional.
                Subjek dari penelitian ini adalah 12 orang siswa (4 orang laki-laki & 8 oang perempuan), yang duduk di kelas IX SMP Negeri 1 Jatiroto. Metode pengumpulan data melalui observasi dan angket yang dianalisa secara kualitatif berdasarkan hasil refleksi jawaban positif dari konseli yang mengalami kecemasan. Hasilnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa konseling kelompok dengan strategi relaksasi dapat membantu konseli mengatasi masalah kecemasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar