Analisis Jurnal
Kelas Observasi ga ada henti-hentinya untuk menganalisa
jurnal-jurnal yang menggunakan metode pengumpulan data dari observasi. Yuk kita
simak ulasan dari jurnal yang sudah dibahas dikelas
KARTU MOTIVASI
SEBAGAI BENTUK DUKUNGAN SOSIAL DALAM
PROSES PERAWATAN PADA ANAK KANKER LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT (LLA) YANG
DIBERIKAN OLEH ORANGTUA DAN TINJAUAN DARI AGAMA ISLAM
Jurnal ini meneliti tetang
keefektifan penggunaan kartu motivasi dari orang tua kepada anaknya yang
menderita kanker leukimia limfoblastik akut. Selain ditijau dari sisi
psikologis, penelitian ini juga meninjaunya dari agama Islam.
Leukimia adalah salah satu jenis
kanker dimana sel-sel yang dalam keadaan normal berkembang menjadi ganas dan
dengan segera akan menggantikan sel-sel normal didalam sumsum tulang belakang.
Perlu diketahui bahwa jumlah
pasien yang terdiagnosa kanker setiap tahun meningkat mencapai 6,25 juta dan
duapertiganya berasal dari negara berkembang seperti Indonesia. Kanker leukimia
ini, sekitar 30-40% banyak dijumpai pada anak daripada jenis kanker lainnya. Anak-anak
penderita kanker yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit mengalami
perubahan fisik, perilaku, dan emosional. Dimana perubahan tersebut dapat
berdampak negatif terhadap perkembangan kesehatan fisik dan mental anak. Oleh karen
itu, peneliti berharap, penelitiannya melalui kartu motivasi ini dapat
memberikan pengetahuan yang baik untuk para orang tua dari anak penderita
kanker agar dapat memotivasi anak-anaknya dalam menjalani perawatan.
Dukungan sosial didefinisikan
sebagai informasi dari seseorang kepada
orang lain bahwa orang tersebut dicintai dan di perhatikan, di hormati, dan
merupakan orangtua, pasangan atau kekasih, anggota keluarga lain, teman,
komunitas sosial dan masyarakat (Rietschlin, dalam Taylor 2006). Kartu motivasi
yang diberikan yaitu berupa kartu yang berisikan gambar, kata-kata atau kalimat
motivasi kepada penerimanya.
Responden dalam penelitian ini
sebanyak lima orang dengan metode pengumpulan data melalui observasi dan
wawancara mendalam. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa kartu motivasi
menjadi salah satu alat komunikasi bagi orang tua kepada anak. Anak-anak yang
menerima kartu tersebut merasa senang bahkan satu diantaranya membuat kartu motivasi
untuk dirinya sendiri. Komunikasi antara orang tua dan subjek bersifat lebih
intensif, bentuk komunikasi seperti ini dinyatakan sebagai bentuk komunikasi
terapeutik yag bersifat menyembuhkan.
Dalam tinjauan Islam, dukungan
emosional mencakup empati, kasih sayang, dan perhatian terhadap individu selain
itu pemberian kartu motivasi hukumnya adalah mubah atau diperbolehkan.
PELATIHAN REGULASI EMOSI UNTUK MENURUNKAN PERILAKU AGRESIF PADA ANAK
Penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui apakah pelatihan regulasi emosi dapat menurunkan perilaku agresif pada
anak usia sekolah kelas lima SD yang berusia 10th. Fenomena dari anak-anak yang
semakin melakukan tindakan agresif seperti menghina, melempar barang, mencubit,
menendang, mendorong untuk mendapatkan keinginan, mengganggu teman, dan lain-lain,
mendorong peneliti untuk melakukan penelitian ini.
Perlu
diketui bahwa regulasi emosi adalah pemikiran atau peringatan yang dipengaruhi
oleh perasaan individu, bagaimana individu mengalami dan mengungkapkan
perasaannya (Gross & John, 2003). Sedangkan perilaku agresif adalah segala
bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti atau melukai makhluk hidup
lain yang tidak menginginkan datangnya perilaku tersebut (Krahe, 2005).
Subjek penelitian sebanyak dua orang. Perilaku
agresif diamati melalui perilaku agresif fisik dan verbal yang bersifat terbuka
atau tampak. Hasilnya menunjukkan bahwa pelatihan regulasi emosi dapat
menurunkan perilaku agresif pada subjek penelitian. Kemampuan anak untuk
melakukan regulasi emosi, yaitu menilai, mengatur, dan mengungkapkan emosinya
secara tepat.
HUBUNGAN SEKSUAL LANSIA PRIA YANG TELAH KEHILANGAN PASANGANNYA
Oleh Yumiko Nakahara
Penelitian ini berasal dari
Jepang, dimana terdapat nilai bahwa pria lansia yang sudah kehilangan
pasangannya (istri) akibat meninggal akan mendapat pandangan yang negatif jika
ia mencari pasangan pengganti. Lansia juga dianggap tidak kompeten dan berada
ditigkat terendah dalam tangga sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mencermati perilaku seksual dan pandangan mereka tentang perilaku seksual
tersebut.
Subjek
penelitian sebanyak tiga orang duda, berusia diatas 60th yang tetap menduda
tetapi memiliki hubungan seksual saat penelitian berlangsung. Penelitian lain
menyebutkan bahwa kesehatan seksual merupakan komponen penting untuk
meningkatkan kualitas hidup dan itu terkait dengan fungsi dan hasrat (Montreal
Deklarasi, 2005). Hubungan seksual juga mempengaruhi tingkat kepuasan hidup
(dunia kongres sexology, 2005), serta pentingnya merestrukturisasi hubungan
manusia untuk pria setelah kehilangan pasangan mereka (Akazawa & Mizukami,
2008).
Dari
hasil observasi dan wawancara, dapat dikatakan bahwa subjek berusaha melawan
pandangan negatif pada dirinya dan pasangannya. Subjek berusaha untuk
menunjukkan perannya baik sebagai laki-laki, ayah, dan juga sebagai seorang
kekasih. Dalam hal menjalin hubungan seksual, mereka mulai mencari pasangan
melalui kenalan atau bertemu saat acara tertentu. Hubungan mereka berkembang
untuk sesuatu yang menyenangkan, bukan untuk reproduksi. Keberadaan pendamping
wanita dapat meningkatkan self-esteem
pada pria. Subjek juga lebih memperhatikan pasangan barunya karena tidak mau
mengulangi kesalahan saat bersama almarhum istrinya dulu. Subjek juga tidak
akan pernah melupakan kenangan dirinya bersama istri, dan begitupun dengan
pasangan barunya, mereka saling berbagi. Subjek juga terus memberikan dukungan
kepada anak-anaknya terutama yang belum menikah. Mereka yakin bahwa tidak ada
yang berubah pada diri mereka secara mental, tetapi mereka tidak menyangkal
bahwa secara fisik terjadi kemunduran.
MENGURANGI KECEMASAN KONSELI MENGIKUTI UJIAN NASIONAL MELALUI KONSELING
KELOMPOK DENGAN STRATEGI RELAKSASI
Penelitian
ini bertujuan untuk membantu konseli mengatasi masalah kecemasan menghadapi
ujian, juga untuk meningkatkan aktivitas konseli dalam layanan konseling
kelompok. Peneliti berharap dengan relaksasi dapat megurangi kecemasan konseli
saat ujian nasional.
Relaksasi
merupakan suatu tehnik dalam terapi perilaku.
Secara ilmiah, relaksasi merupakan perpanjangan serabut otot skeletal,
sedangkan ketegangan merupakan kontraksi terhadap perpindahan serabut otot
(Beech, 1982). Relaksasi membuat individu lebih mampu menghindari reaksi yang
berlebihan karena stres, dapat mengurangi tingkat kecemasan, serta meningkatkan
hubungan interpersonal. Orang yang rileks dalam situasi interpersonal akan
berpikir rasional.
Subjek
dari penelitian ini adalah 12 orang siswa (4 orang laki-laki & 8 oang
perempuan), yang duduk di kelas IX SMP Negeri 1 Jatiroto. Metode pengumpulan
data melalui observasi dan angket yang dianalisa secara kualitatif berdasarkan
hasil refleksi jawaban positif dari konseli yang mengalami kecemasan. Hasilnya,
dapat ditarik kesimpulan bahwa konseling kelompok dengan strategi relaksasi
dapat membantu konseli mengatasi masalah kecemasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar