Penerapan Terapi
Realitas untuk Membantu Coping-Stress pada Wanita Pekerja Seksual dengan HIV
Positif
(Ulasan Jurnal)
Sudah
jatuh tertimpa tangga pula! Mungkin itu pepatah yang tepat untuk ODHA (Orang
dengan HIV/AIDS). Siapa sih manusia didunia ini yang mau sakit? Apalagi
terinfeksi HIV/AIDS (Human Indeficiency Virus/ Acquired Immuno Deficiency
Syndrome), sudah jelas tidak ada yang mau! Cemoohan dan diskriminasi sosial
pasti menjadi masalah pertama yang harus dihadapi mereka. Menerima kenyataan
bahwa mereka terinfeksi HIV saja sudah berat, ditambah lagi dengan masalah
sosial yang langsung menyerang. Bersyukurlah mereka yang sudah melewati tahap
awal ini dan mampu memperjuangkan hidup.
Di
Indonesia, penyakit HIV/AIDS mempunyai stigma negatif dalam masyarakat, secara
agamis mereka menganggap bahwa orang yang terinfeksi virus ini adalah orang
yang tidak taat agama[1]. Kenapa?
Karena penyakit ini terutama disebarkan melalui hubungan seksual pada anal,
vaginal dan oral dengan tingkat resiko penderita tertinggi adalah pekerja
seksual yang berganti-ganti pasangan serta penggunaan narkoba jarum suntik. Padahal
tidak semua penderita adalah pekerja seksual atau pengguna narkoba jarum
suntik, bisa saja mereka menderita karena terpapar oleh orang tua atau permpuan
yang tertular suami.
Pada
tahun 2013 ini, banyak sekali kasus diskriminasi terhadap ODHA, termasuk
anak-anak yang tertular HIV sejak dalam kandungan. Salah satunya Mirza (bukan
nama asli), dia ditolak meneruskan pendidikan di sebuah Taman Kanak-kanak (TK)
karena diketahui mengidap HIV/AIDS. Sebelumnya, Mirza pernah mengecap
pendidikan di Paud, namun ketika ingin melanjutkan ke TK, dia ditolak oleh
pihak sekolah. Berbagai pihak sangat menyayangkan hal ini karena akhirnya Mirza
tidak dapat melanjutkan pendidikan[2]. Kasus
diatas merupakan diskriminasi dari lingkungan sosial, bagaimana dengan
lingkungan terdekat yaitu keluarga? Di India, ada seorang ibu yang tega
membunuh anaknya yang terinfeksi HIV/AIDS[3]. Sungguh
kejam bukan?
Kasus-kasus
yang telah terjadi, membuat sebagian orang tersadar bahwa para penderita HIV
ini harus dibantu baik secara medis maupun psikologis. Medis bisa berupa
pengobatan, pelayanan yang ramah dan kemudahan dalam mendapatkan pengobatan,
sedangkan psikologis dapat berupa pendampingan serta konseling agar bisa
menghadapi realita kehidupan yang dihadapinya. Salah satu konseling yang
menjadi bahan penelitian terkait efektifitas dalam mengatasi stress pada
penderita HIV positif adalah terapi realitas. Seperti judul yang tertera diatas, Tatik
Imadatus Sa’adati melakukan penelitian kepada Wanita Pekerja Seksual (WPS) yang
terinfeksi HIV di daerah Surabaya, Jawa Timur. Ia meneliti dua WPS yang telah
bekerja kurang lebih selama 2 tahun. Perubahan status kesehatan pada subjek
menimbulkan kondisi psikologis yang tidak stabil, hal ini akan mempengaruhi
bagaimana subjek beradaptasi dengan penyebab stress yang akan muncul kemudian.
Salah satu sumber stress yang dihadapi subjek adalah rencana pernikahan.
Berbagai macam bentuk respon timbul saat mereka mengetahui status kesehatannya,
seperti depresi, gangguan mood,
marah, berpikiran untuk bunuh diri dan lain sebagainya. Pemberian konseling
diharapkan dapat membantu menenangkan kondisi psikologis ODHA.
Terapi
realitas yang digunakan dalam penelitian tersebut memiliki tujuan agar subjek dapat menerima keadaannya dan tidak melakukan
hal-hal yang dapat membahayakan diri serta dapat beradaptasi dengan kondisi
kesehatnnya yang baru. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai upaya coping-stress pada WPS dengan HIV
Positif. Dalam pelaksanaannya, terapi menggunakan pendekatan konseling dan
fokus pada penyelesaian masalah pada saat ini, dan bagaimana membuat masa depan
lebih baik daripada berkonsentrasi pada masa lalu. Mengajari untuk menetapkan
keputusan, membuat aksi, dan kontrol dalam hidupnya. Mengarahkan WPS untuk
dapat mengambil keputusan yang tepat atas rencana masa depan hidupnya dalam
bentuk perilaku yang lebih bertanggung jawab.
Sesuai
dengan definisi dari korelasi stress dengan perilaku pada DSM IV-TR American
Psychiatric Association (APA), Berger (2008) memberikan kategori stress, yaitu stres
akut, stres akut episodik, stres kronik, dan stres traumatik. Kedua subjek
tersebut terdeteksi mengalami stres koronik, dimana stres tersebut dapat
menekan daya tahan tubuh.
Definisi
coping-stress menurut Sarafino (dalam
Maifrisco, 2008) adalah proses dimana individu melakukan usaha untuk mengatur
situasi yang dipersepsikan adanya kesenjangan usaha dan kemampuan yang dinilai
sebagai penyebab munculnya situasi stres. Prestonje (1992: 170) membagi coping-stress menjadi dua bentuk, yaitu active approach, yaitu menghadapi
realita stress yang dialami dan mengklarifikasi masalah melalui upaya
konstruktif terkait dengan pihak lain; dan yang kedua adalah passive approach, dimana individu
memutuskan, menurunkan atau menolak stress/tekanan yang dialami dengan
menghindari masalah.
Terapi
realitas yang aktif secara verbal ini, menurut penelitian tersebut membawa
hasil positif bagi para subjek. Mereka kini memiliki pemahaman yang benar
tentang infeksi HIV yang ada padanya, sehingga kekhawatiran dan ketakutan yang
semula dirasakan sangat mengganggu kini menjadi berkurang meskipun belum hilang
sama sekali. Hasil lain yang tampak
adalah kemampuan subjek untuk belajar mengambil keputusan berkaitan dengan
hubungan interpersonal yang dijalaninya. Subjek juga memiliki niat untuk keluar
dari pekerjaannya saat ini dan belajar menjalani hidup yang lebih baik.
Beberapa perilaku yang diharapkan juga terpenuhi, seperti penggunaan kondom
yang lebih diperketat, kesadaran subjek untuk memeriksakan kesehatannya secara
rutin, pola makan dan istirahat yang lebih baik. Selain itu, subjek juga mampu
melaksanakan usaha coping-stress
dengan metode active approach, yaitu
adanya keinginan bagi subjek untuk memutuskan menghadapi realita yang
dialaminya dengan melakukan konsultasi dengan terapis tentang kondisi tubuhnya
yang mudah lemah dan sakit, serta kemampuan subjek memberikan semangat pada
dirinya sendiri untuk dapat berusaha bertahan dengan kondisi status
kesehatannya saat ini.
Jadi
dengan kondisi psikologis yang stabil diharapkan daya tahan tubuh penderita
lebih kuat, karena menurut Cohen dan Herbert (dalam Durrand & Barlow, 2006:
347) terdapat pengaruh langsung antara kondisi psikologis dengan kerentanan
tubuh. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk bisa menerima keberadaan ODHA
karena mereka memerlukan dukungan yang kuat. Hal penting lainnya yang perlu
kita ketahui adalah HIV/AIDS tidak bisa tertular dengan berada ditempat yang
sama, minum dengan gelas yang sama, ataupun dengan bersalaman, jadi kita tidak
perlu mengucilkan mereka. Ingat, mereka juga saudara kita, saudara sebangsa dan
setanah air….
[1]
http://health.kompas.com/read/2013/07/22/0720069/Penanganan.HIV/AIDS.Terhambat.Stigma
[2]
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news_kedu/2013/07/03/163182/Idap-HIVAIDS-Mirza-Tak-Diterima-Daftar-Sekolah
[3]
http://news.detik.com/read/2013/08/14/143947/2329601/1148/sadis-ibu-di-india-cekik-mati-putranya-penderita-hiv-aids
Pembahasan Jurnal Penelitian
Psikologi 2011, Vol. 02, No. 02, 229-245
Penulis Tatik Imadatus Sa’adati
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri
Kediri
ditulis dalam bentuk artikel oleh Nadia Chairunnisa
#Pertemuan ke-2 Psikodiagnostik II: Observasi
#T2_1
makin mantab saja cara penulisannya...alhamdulillah, ditunggu tulisan yang lainnya ya...
BalasHapus