Senin, 16 September 2013

Psikodiagnostik II: Observasi

Penerapan Terapi Realitas untuk Membantu Coping-Stress pada Wanita Pekerja Seksual dengan HIV Positif
 (Ulasan Jurnal)


                Sudah jatuh tertimpa tangga pula! Mungkin itu pepatah yang tepat untuk ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Siapa sih manusia didunia ini yang mau sakit? Apalagi terinfeksi HIV/AIDS (Human Indeficiency Virus/ Acquired Immuno Deficiency Syndrome), sudah jelas tidak ada yang mau! Cemoohan dan diskriminasi sosial pasti menjadi masalah pertama yang harus dihadapi mereka. Menerima kenyataan bahwa mereka terinfeksi HIV saja sudah berat, ditambah lagi dengan masalah sosial yang langsung menyerang. Bersyukurlah mereka yang sudah melewati tahap awal ini dan mampu memperjuangkan hidup.

                Di Indonesia, penyakit HIV/AIDS mempunyai stigma negatif dalam masyarakat, secara agamis mereka menganggap bahwa orang yang terinfeksi virus ini adalah orang yang tidak taat agama[1]. Kenapa? Karena penyakit ini terutama disebarkan melalui hubungan seksual pada anal, vaginal dan oral dengan tingkat resiko penderita tertinggi adalah pekerja seksual yang berganti-ganti pasangan serta penggunaan narkoba jarum suntik. Padahal tidak semua penderita adalah pekerja seksual atau pengguna narkoba jarum suntik, bisa saja mereka menderita karena terpapar oleh orang tua atau permpuan yang tertular suami.

                Pada tahun 2013 ini, banyak sekali kasus diskriminasi terhadap ODHA, termasuk anak-anak yang tertular HIV sejak dalam kandungan. Salah satunya Mirza (bukan nama asli), dia ditolak meneruskan pendidikan di sebuah Taman Kanak-kanak (TK) karena diketahui mengidap HIV/AIDS. Sebelumnya, Mirza pernah mengecap pendidikan di Paud, namun ketika ingin melanjutkan ke TK, dia ditolak oleh pihak sekolah. Berbagai pihak sangat menyayangkan hal ini karena akhirnya Mirza tidak dapat melanjutkan pendidikan[2]. Kasus diatas merupakan diskriminasi dari lingkungan sosial, bagaimana dengan lingkungan terdekat yaitu keluarga? Di India, ada seorang ibu yang tega membunuh anaknya yang terinfeksi HIV/AIDS[3]. Sungguh kejam bukan?

                Kasus-kasus yang telah terjadi, membuat sebagian orang tersadar bahwa para penderita HIV ini harus dibantu baik secara medis maupun psikologis. Medis bisa berupa pengobatan, pelayanan yang ramah dan kemudahan dalam mendapatkan pengobatan, sedangkan psikologis dapat berupa pendampingan serta konseling agar bisa menghadapi realita kehidupan yang dihadapinya. Salah satu konseling yang menjadi bahan penelitian terkait efektifitas dalam mengatasi stress pada penderita HIV positif adalah terapi realitas.  Seperti judul yang tertera diatas, Tatik Imadatus Sa’adati melakukan penelitian kepada Wanita Pekerja Seksual (WPS) yang terinfeksi HIV di daerah Surabaya, Jawa Timur. Ia meneliti dua WPS yang telah bekerja kurang lebih selama 2 tahun. Perubahan status kesehatan pada subjek menimbulkan kondisi psikologis yang tidak stabil, hal ini akan mempengaruhi bagaimana subjek beradaptasi dengan penyebab stress yang akan muncul kemudian. Salah satu sumber stress yang dihadapi subjek adalah rencana pernikahan. Berbagai macam bentuk respon timbul saat mereka mengetahui status kesehatannya, seperti depresi, gangguan mood, marah, berpikiran untuk bunuh diri dan lain sebagainya. Pemberian konseling diharapkan dapat membantu menenangkan kondisi psikologis ODHA. 

                Terapi realitas yang digunakan dalam penelitian tersebut memiliki tujuan agar subjek  dapat menerima keadaannya dan tidak melakukan hal-hal yang dapat membahayakan diri serta dapat beradaptasi dengan kondisi kesehatnnya yang baru. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai upaya coping-stress pada WPS dengan HIV Positif. Dalam pelaksanaannya, terapi menggunakan pendekatan konseling dan fokus pada penyelesaian masalah pada saat ini, dan bagaimana membuat masa depan lebih baik daripada berkonsentrasi pada masa lalu. Mengajari untuk menetapkan keputusan, membuat aksi, dan kontrol dalam hidupnya. Mengarahkan WPS untuk dapat mengambil keputusan yang tepat atas rencana masa depan hidupnya dalam bentuk perilaku yang lebih bertanggung jawab.

                Sesuai dengan definisi dari korelasi stress dengan perilaku pada DSM IV-TR American Psychiatric Association (APA), Berger (2008) memberikan kategori stress, yaitu stres akut, stres akut episodik, stres kronik, dan stres traumatik. Kedua subjek tersebut terdeteksi mengalami stres koronik, dimana stres tersebut dapat menekan daya tahan tubuh.

                Definisi coping-stress menurut Sarafino (dalam Maifrisco, 2008) adalah proses dimana individu melakukan usaha untuk mengatur situasi yang dipersepsikan adanya kesenjangan usaha dan kemampuan yang dinilai sebagai penyebab munculnya situasi stres. Prestonje (1992: 170) membagi coping-stress menjadi dua bentuk, yaitu active approach, yaitu menghadapi realita stress yang dialami dan mengklarifikasi masalah melalui upaya konstruktif terkait dengan pihak lain; dan yang kedua adalah passive approach, dimana individu memutuskan, menurunkan atau menolak stress/tekanan yang dialami dengan menghindari masalah. 
                Terapi realitas yang aktif secara verbal ini, menurut penelitian tersebut membawa hasil positif bagi para subjek. Mereka kini memiliki pemahaman yang benar tentang infeksi HIV yang ada padanya, sehingga kekhawatiran dan ketakutan yang semula dirasakan sangat mengganggu kini menjadi berkurang meskipun belum hilang sama sekali.  Hasil lain yang tampak adalah kemampuan subjek untuk belajar mengambil keputusan berkaitan dengan hubungan interpersonal yang dijalaninya. Subjek juga memiliki niat untuk keluar dari pekerjaannya saat ini dan belajar menjalani hidup yang lebih baik. Beberapa perilaku yang diharapkan juga terpenuhi, seperti penggunaan kondom yang lebih diperketat, kesadaran subjek untuk memeriksakan kesehatannya secara rutin, pola makan dan istirahat yang lebih baik. Selain itu, subjek juga mampu melaksanakan usaha coping-stress dengan metode active approach, yaitu adanya keinginan bagi subjek untuk memutuskan menghadapi realita yang dialaminya dengan melakukan konsultasi dengan terapis tentang kondisi tubuhnya yang mudah lemah dan sakit, serta kemampuan subjek memberikan semangat pada dirinya sendiri untuk dapat berusaha bertahan dengan kondisi status kesehatannya saat ini.

                Jadi dengan kondisi psikologis yang stabil diharapkan daya tahan tubuh penderita lebih kuat, karena menurut Cohen dan Herbert (dalam Durrand & Barlow, 2006: 347) terdapat pengaruh langsung antara kondisi psikologis dengan kerentanan tubuh. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk bisa menerima keberadaan ODHA karena mereka memerlukan dukungan yang kuat. Hal penting lainnya yang perlu kita ketahui adalah HIV/AIDS tidak bisa tertular dengan berada ditempat yang sama, minum dengan gelas yang sama, ataupun dengan bersalaman, jadi kita tidak perlu mengucilkan mereka. Ingat, mereka juga saudara kita, saudara sebangsa dan setanah air…. 



[1] http://health.kompas.com/read/2013/07/22/0720069/Penanganan.HIV/AIDS.Terhambat.Stigma
[2] http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news_kedu/2013/07/03/163182/Idap-HIVAIDS-Mirza-Tak-Diterima-Daftar-Sekolah
[3] http://news.detik.com/read/2013/08/14/143947/2329601/1148/sadis-ibu-di-india-cekik-mati-putranya-penderita-hiv-aids

Pembahasan Jurnal Penelitian Psikologi 2011, Vol. 02, No. 02, 229-245
Penulis Tatik Imadatus Sa’adati
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kediri

ditulis dalam bentuk artikel oleh Nadia Chairunnisa
#Pertemuan ke-2 Psikodiagnostik II: Observasi
#T2_1 

1 komentar:

  1. makin mantab saja cara penulisannya...alhamdulillah, ditunggu tulisan yang lainnya ya...

    BalasHapus